Selasa, 09 Juli 2013

RESENSI Sejarah Peradaban Islam

Bagian 1
RASULULLAH SAW.
SEBAGAI USWAH HASANAH
(Telaah Kritis Dalam Ilmu Sejarah) 


I. PENDAHULUAN

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang diutus Tuhan kepada seluruh umat manusia dan menjadi penyempurna dari ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi Allah yang terdahulu. Beliau lahir di tengah-tengah masyarakat Bangsa Arab jahilia yang menjadikan nafsu sebagai panglima, mempertuhan materi dan kekayaan serta membanggakan nazab dan keturunan. Di tengah masyarakat yang meraba-raba dalam kegelapan moral yang pekat dan etika yang bobrok, beliau menyalakan pelita kebenaran yang rahmatan lil’alamin.

Beliau damaikan suku-suku yang bermusuhan dan yang terperangkap dalam bingkai ashabiah yang berserahkan dan menyesatkan manusia secara permanent ke dalamnya lalu di simpan dalam kotak sejarah, kemudian didamaikan dalam sebuah keluarga besar “Islam”. Dua puluh tahun lebih beliau bekerja keras dan akhirnya berhasil.

II. ANALISA KRITIS TERHADAP SEJARAH NABI

Pada awal abad kedua nama Muhammad bin Ishak (meninggal 152 H.) yang menulis sebuah sirah yang dikenal dengan sirah Ibn Ishaq. Selanjutnya pada paroh kedua abad kedua terkenal tiga sejarah Nabi yang dijadikan sumber rujukan sejarawan-sejarawan sesudahnya. Ketiganya itu ialah Al-Magazi tulisan al-Waqidi (meninggal 207 H.), At-Tabaqat al-Kubru tulisan Muhammad bin Sa’ad (207 H.), dan As-Sirah an-Nabawiyyah tulisan Ali bin Hisyam (meninggal 218 H.), yang disebut terakhir menulis sitah-nya dengan member komentar serta studi kritis terhadap karya Ibn Ishaq yang ditulis setengah abad sebelumnya. At-Tabari pada akhir abad ketiga yang menulis catatan-catatan hidup Nabi, juga banyak mengutip dari tulisan-tulisan sebelumnya.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad saw. kita dituntut menjadikannya sebagai uswah hasanah atau suri tauladan. Untuk itu kita harus memahami perilakunya sehingga apa yang dicontohkan Beliau dapat diteladani. Sumber pokok untuk memahami perilaku Nabi adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada kita perilaku nabi yang sifatnya umum dan absolut serta manusiawi. Aplikasi dari perilaku Beliau itu tercermin dalam sejarah hidupnya. Untuk memperoleh fakta sejarah dari data-data sejarah tentang perilakunya, kita hendaknya bertitik tolak pada perilakunya yang absolute dan universal sebagai mana yang terdapat dalam Al-Qur’an, lalu kita mencari hukum-hukum umum yang mendasari segala perbuatan dan tindakannya.


Bagian 2
BANI ABBASIAH
(Sebuah Potret Dalam menguak Makna Sejarah)


I. Pendahuluan

Dari limit waktu yang begitu panjang khalifah bani Abbas memegang dan menguasai bola politik di bagdad, maka para ahli sejarah dan sejarahwan mensejarahkan bahwa Islam membagi periodisasi pemerintahan Abbasiyah itu kepada lima periode. Adapun periodisasi yang dimaksud adalah :
  1. Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Kekuasaan periode ini berada ditangan para khalifah atau disebut juga periode pengaruh Persia pertama.
  2. Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). Pada periode ini kekuasaan hilang dari tangan para khalifah atau masa ini disebut masa pengaruh Turki pertama.
  3. Periode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). masa kekuasaan dinasti Buwaihi dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
  4. Periode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
  5. Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1254 M). masa khalifah Abbas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.
II. Dinasti-dinasti Kecil di Barat dan di Timur Bagdad

Dinasti-dinasti yang lahir menuntut independensi diri untuk melepaskan dari kekuasaan Bagdad disebabkan karena tidak terkontrolnya secara seksama daerah tersebut.

Adapun dinasti yang dimaksud antara lain adalah :

a) Yang berbangsa Arab dan Turki
  1. Idrisiah di Maroko (172 – 375 H/788 – 985 M)
  2. Aghlabiyyah di Tunisia (184 – 289 H/800 – 900 M)
  3. Thuluniyah di Mesir (254 – 292 H/837 – 903 M)
  4. Ikhsidiyah di Turkisan (320 – 560 H/932 – 1163 M)
b) Yang berbangsa Persia
  1. Tahariyyah di Khurasan (205 – 259 H/820 – 872 M)
  2. Syafariyah di Fars (254 – 290 H/868 – 901 M)
  3. Samaniyah di Transoxania (261 – 389 H/873 – 998 M)
Bani Abbasiyah dalam lintasan sejarah mengalami puncak kejayaan Islam yang luar biasa. Meskipun banyak tantangan dan gangguan yang dihadapinya, bahkan gerakan-gerakan politik yang merongrong pemerintah dan mengganggu stabilitas kekhalifahan pada waktu itu tetapi semua itu dapat diatasi.

Perkembangan kebudayaan dan peradaban serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya. Kehidupan mewah khalifah-khalifah ini ditiru oleh oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Kecenderungan bermewah-mewa ditambah dengan kelemahan khalifah dan factor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara professional membuat independent posisinya.

Disisi lain Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan dari pada politik dan ekspansi biasanya propinsi-propinsi tertentu dipinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas, seperti Idrisiah di Maroko, Aghlabi di Tunisia, Thulunia di Mesir, Iksidiah di Turkistan, Tahariyah di Khurasan, Sahfariyah di Fars, Sammaniyah di Transoxania dan lain-lain. Semuanya itu diakibatkan adanya kebijakan yang tidak proporsional. Tapi, bagaimana pun juga kita harus mengakui bahwa kemenangan dan kekalahan, kepuncakan kejatuhan, kebahagiaan dan kesedihan semuanya itu dipergilirkan Allah kepada manusia.


Bagian 3
KERAJAAN USMANI :
HEGEMONI POLITIK, MILITER, SENI DAN AGAMA

A. PENDAHULUAN

Kondisi politik Islam mengalami perkembangan lagi ketika tampil tiga kerajaan terbesar disekitar tahun 1500 – 1800 M. yaitu kerajaan Safawi di Persia, kerajaan Mughal di India dan kerajaan Usmani di Turki. Sebagian sejarawan membagi dua periode tiga kerajaan ini. Pertama, periode perkembangan dan kemajuannya (1500 – 1700 M), kedua, periode kemunduran (1700 – 1800 M).

Diantara ketiga kerajaan besar itu kerajaan Usmani adalah yang paling besar dan lama, sekitar enam setengah abad. Wilayah kekuasaannya yang paling luas ketika semua kerajaan Islam yang besar telah mengalami kehancuran oleh politik kaum penjajah Barat. Kerjaan Usmani masih bertahan hingga 1924.

B. ASAL – USUL PEMBENTUKANNYA

Bangsa Turki mempunyai dua dinasti yang berhasil mengukir sejarah dunia. Pertama, dinasti Turki Saljuk, dan kedua dinasti Turki Usmani. Kehancuran dinasti Saljuk oleh serangan pasukan Mongol, merupakan peluang besar terbentuknya dinasti Turki Usmani (selanjutnya disebut kerajaan Usmani).

Pendiri kerajaan tersebut adalh bangsa turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah Negeri utara Cily. Dalam limit waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke Sembilan atau kesepuluh. Ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian ditengah-tengah saudara mereka, orang-orang Turki Saljuk didaratan tinggi Asia kecil.

C. PERLUASAN WILAYAH

Turki Usmani melakukan penetrasi wilayah secara besar-besaran untuk kepentingan perang Orkhan (1324-1360 M), pengganti Usman I membentuk pasukan khas yaitu jurusan yang terdiri atas mu’alat yang berasal dari Tuorgia dan Aremenia yang pada umumnya menganut tarekat Baktasyl. Dengan keteguhan pasukan tersebut Orkhan berhasil menaklukan Broessa (Turki), Izmi (Asia Kecil) dan Aukara I (1360-1389). Pengganti Orkhan berhasil menaklukan Bukhara, Audrianopel (Turki), Mecedoma, Sota (Bulgaria), Bayazia I (1389-1462), pengganti Murad I dapat merebut benteng Philadephia, Theramaia dan Kirman (1391 M). Pada zaman Bayazid I, Turki Usmani sudah menjadi bangsa besar karena wilayahnya sangat luas dan disegani oleh kerajaan keristen di Balkan dan Eropa Timur. Ketika itu Turki Usmani sangat maju dan menjadi salah satu pusat peradaban di dunia. Oleh karena itu, Turki dianggap sebagai ancaman bagi Eropa.

D. KEMAJUAN PERADABAN PADA MASA USMANI

1. Bidang Politik

Sultan Usmani bi’n Ertoghral. Pada tahun 1299 tampil memikul tanggung jawab kepemimpinan orang-orang Turki Usmani setelah ayahnya meninggal (pada tahun yang sama, dinasti Saljuk hancur dibekuk oleh pasukan Mongol dan membunuh sultan Alauddin. Dalam situasi yang demikian itu, Sultan Usmani bin Eroghral memproklamasikan kemerdekaan. Wilayahnya atas proklamasi tersebut para pembesar Saljuk, para pejuang yang menetang kekuasaan Mongol, para sufi, Ulama dan orang-orang Turki sendiri berbondong-bondong membuatnya sehingga daerah dinasti saljuk menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Usmani.

Dengan demikian kerajaan Usmani pada masa kekuasaan Sultan sulaywah al Qununy, wilayah kekuasaannya meliputi Asia Timur, Armenia, Irak, Suria, Hijas dan Yaman. Di benua Asia, Mesir Libia, Tunisia, Aljazair. Di benua Afrika, Yunan, Bilgaria, Yugoslavia, Albania, Hongaria dan Rumania benua eropa.

2. Bidang Militer

Kekuasaan militer kerajaan Usmani diorganisir oleh sultan Orehan dengan jalan perombakan. Orang-orang non-Turki direkrut menjadi anggotanya. Mereka direkrut dari anak-anak keristen secara paksa dan suka rela menyerahkan anak-anaknya untuk dididik menjadi anggota militer. Karena kesempatan manaknya membina karier yang lebih baik dikemudian hari di samping adanya jaminan kehidupan, karena diperlakukan seperti anak-anak sultan.

Selain itu angkatan laut dibangun karena ia memiliki peranan penting dalam perluasan dan pemantapan kekuasaan, kerajaan Usmani Abu Al-hasan Aly al-Husny al-Nadawy mengemukakan bahwa pada tahun 945 H/1549 M armada kerajaan Usmani memililki 3000 bus kapal. Angkatan lautnya sangat kuat sehingga laut hitan dianggap sebagai dalamnya. Tidak ada bangsa asing yang diizinkan memasukinya. Dengan kekuatan angkatan lautnya, gabungan angkatan laut Yunan, Venesi, Spanyol, Portugal malah diporak porandakan.

3. Bidang Seni

Orang-orang turki menerima ilmu dan Islam dari bangsa arab, sehingga bangsa arab dianggap sebagai guru mereka. Oleh karena bangsa arab itu, Kerajaan Usmani menjadikan huruf Arab sebagai huruf resmi sampai dihapuskan oleh Mustafa kemal al-Aturh pada tahun 1928 M dan diganti dengan huruf lain. Mereka banyak mengambil ajaran-ajaran etika dan meniru, politik bangsa Persia, seperti tata karma penghormatan kepada sultan. Mereka meniru bangsa Persia karena mereka mempunyai hubungan histories sebelum dan sesudah hijrah ke Asia Barat. Sedangkan Bizauntium mereka meniru organisasi militer dan susunan pemerintah.

Pada kurun waktu satu setengah abad, sebelum penaklukan kota-kota Konstantinopel, kerajaan Usmani membangun Mesjid, gedung-gedung perguruan dan lain-lain. Arsitektur Islam gaya Usmani pada awalnya cenderung menlanjutkan arsitektur bani Saljuk yang berkuasa sebelumnya.

Disamping Arsitektur, kaligrafi mengalami kemajuan pula, kaligrafi Islam menghiasi sekolah-sekolah dan bangunan-bangunan lainnya. Yang paling besar sumbangannya terhadap kemajuan kaligrafi Islam di kerajaan Usmani adalah Syaikh Hamdullah al-amtsy (wafat 1520 M) dia memiliki sebagian kaligrafi terbesar pada zaman kerajaan Usmani. Dia mengajarkan kaligrafi kepada Sultan Bayzia II yang sangat menghargainya.

4. Bidang Agama

Agama mengalami perkembangan pesat pada zaman kerajaan Usmani, yaitu dari aspek tasawuf dan tarekat yang paling berkembang ialah tarekat Bektasyl dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut khususnya oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Maulawi didirikan oleh pengikut Maulawa Jalal al-Din al-Rumly. Administrasi tarekat ini berada ditangan di konyo. Ketuanya diangkat dan diberhentikan oleh Baktesy Veli yang lahir di Hurasan dan Prudsh Anatoli pada 1281 M.

Dalam uraian tersebut bahwa :
  1. Kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Usmani dalam spectrum sejarahnya banyak ditekankan oleh karakteristik orang-orang Turki Usmani yang selalu ingin maju, berjiwa militer. Selalu aktif, inovatif, kreatif termasuk penektrasi wilayah yang sangat strategis dan situasi Negara-negara sekitarnya dalam keadaan takjub melihat kemajuannya.
  2. Kemajuan yang telah dicapai kerajaan Usmani baik dalam aspek politik, militer serta arsitektur Islam dan Agama, merupakan citra tersendiri dan tentunya belum menyaingi kemajuan islam pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah pada masa itu.


Bagian 4
ISLAM DI SPANYOL DAN SICILIA 


I. PENDAHULUAN

Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak bias dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik ketika Islam mencapai mas keemasannya. Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting. Bahkan menyaingi Bagdad di Timur. Orang-orang Eropa Kristen banyak belajar diperguruan tinggi Islam disana. Islam menjadi “guru” bagi Eropa . karena itu kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian sejarawan.

II. ISLAM DI SPANYOL

A. Asal-usul dan Perkembangannya

Sebelum penakukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu propinsi dari dinasti Umayyah. Penguasaan daerah ini terjadi pada masa khlifah Abdul Malik (685-705 M). Penaklukan atas wilayah afrika utara itu memakan waktu selama 53 tahun (mulai dari pemerintahan Muawiyah sampai pada masa Al-Walid) yaitu pada tahun 83 H. namun sebelum dikalahkan oleh Islam. Dikawasan ini sudah menjadi basis kekuatan kerajaan Romawi yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan inilah yang sering menghasut penduduk agar menetang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, maka umat Islam memulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.

Dengan ditaklukannya Spanyol oleh wilayah Barat, oleh pasukan Islam dimasa Al-Walid dan dilanjutkan kewilayah Perancis Selatan pada masa Umar Ibn Abd Azis ditambah dengan pasuka wilayah timur, membuktikan bahwa Islam berhasil menjadi Negara adikuasa pada mas dinasti Umawiyah.

B. Perkembangan Islam di Spanyol

Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi 6 periode, yaitu :

1. Periode pertam (711-755 M)

Periode ini dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik belum tercapai sempurna, masih terdapat gangguan baik dari dalam dan luar.

2. Periode kedua (755-912 M)

Spanyol berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelar Amir, tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintah Islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Bagdad. Pada masa ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Ini terlihat dengan didirikannya mesjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota Spanyol.

3. Periode ketiga (912-1013 M)

Ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd. Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai runtuhnya “Raja-raja Kelompok” yang dikenla dengan sebutan Muluk Al-Thawaif. Periode tersebut, Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Kemajuan yang dicapai telah mencapai puncak dan kejayaan, menyaingi daulah Abbasiyah di Bagdad. Abd Al-rahman Al-Nashir telah mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya pun memiliki koleksi ratusan ribu buku. Pada masa inilah masyarakat dapat menikati kesejahteraan dan kemakmuran, pembangunan kota berlangsung cepat.

4. Periode keempat (1013-1086 M)

Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil dibawah pemerintahan Raja-raja Golongan, yang berpusat di Seville, Cordova, Toledo dsb. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki perikaian intern.

5. Periode kelima (1086-1248 M)

Dinasti Murabhitun (1086-1143) merupakan satu kekuatan disela-sela terpecahnya beberapa Negara. Dinasti ini pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibnu Tasyfin di Afrika Utara dan pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy.

6. Periode Keenam (1298-1492 M)

Periode Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah Dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan. Akan tetapi secara politik Dinasti ini hanya berkuasa di wilayah kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Pada periode inilah menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol.

C. Kemajuan yang dicapai

Bagian ini akan dikemukakan tentang kemajuan yang dicapai Islam di Spanyol, yang meliputi kemajuan dibidang fisik dan non fisik.

i. Kemajuan Dibidang Fisik

Pembangunan fisik yang paling menonjol dapat dilihat seperti di Cordova (ibu kota Spanyol sebelum Islam). Oleh umat Islam kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan dibangun diatas sungai yang mengalir ditengah kota, dan mesjid Cordova yang merupakan mesjid kebanggaan.

ii. Kemajuan Dibidang Non Fisik

Kemajuan dalam bidang nono fisik dapat dilihat sebagai berikut :

a. Filsafat

Tokoh utama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Al-Sayigh (Ibn Bajjah). Corak pemikiran filsafatnya mirip dengan pendahulunya Al-Farabi dan Ibn Sinayang cenderung etis dan eskatologis. Karya terbesarnya adalah Tadbir al-Mutawahhid.

Tokoh kedua adalah Abu Bakar Ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy. Ia banyak menulis maslah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang paling terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan. Filosof khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fikh dengan karyanya Bidayah Al-Mujtahid.

b. Sains

Dalam bidang ini terdapat beberapa ahli antara lain : Abbas Ibn farmas termasyhur dalam bidang kimia dan astronomi. Ia adalah orang yang pertama kali menemukan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash terkenal dalam bidang astronomi, ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ahmad Ibn Ibas dari Cordova adlah ahli dibidang obat-obatan serta Umm Al-Hasan Bin Ali Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah 2 orang ahli kedokterandari kalangan wanita.

c. Fikih

Dalam fikih, Spanyol Islam dikenal sebagai penganit Mazhab Maliki yang diperkenalkan oleh Yazid Ibn Abd Rahman.

d. Music dan Kesenian

Dalam bidang music dan seni suara Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya Al-Hasan Ibnu Nafi yang dijuluki Zavyab.

e. Bahasa dan Sastra

Dalam bidang bahasa dan sastra telah ditetapkan bahasa Arab menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Spanyol, selain itu juga banyak ahli yang mahir dalam bahas Arab, antara lain Ibnu Sayyidih, Ibnu Malik pengarang Alfiyah, Ibnu Khuruf, Ibnu Al-Hajj, Abu Al-Hasan Ibnu Ushfur dan Abu Hayyan Al-Garnathi.

D. Kemunduran dan Kehancuran

Beberapa factor yang menjadi penyebab kemunduran Islam Spanyol, antara lain :

i. Konflik Islam dengan Kristen

Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna mereka sudah puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan adat dan hokum asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-rang Spanyol Kristen. Hal inilah yang senantiasa menyebabkan pertentangan antara Islam dan Kristen.

ii. Tidak Adanya Idiologi Pemersatu

Kalau ditempat-tempat lain para Muallaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, maka di Spanyol orang-orang Arab tidak pernah menerima pribumi, hingga abad ke 10 M mereka masih member istilah Ibad dan Muawwadun kepada para muallaf itu yakni suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Hal ini mengakibatkan etnis-etnis non Arab sering merusak perdamaian. Kesemuanya ini disebabkan karena tidak adanya idiologi yang bermakna.

iii. Kesulitan Ekonomi

Oleh karena para penguasa pada paruh kedua masa Spanyol lebih memperhatikan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan kota maka pengembangan pembinaan dibidang perekonomian terlalaikan.

iv. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan

Perebutan kekuasaan diantara ahli waris juga menjadi salah satu factor kemunduran. Perebutan kekuasaan antara orang-orang istana menimbulkan perselisihan sehingga diantara mereka ada yang meminta bantuan dari penguasa Kristen. Abu Abdullah Muhammad sebagai penguasa yang sah dinasti Ahmar tidak mampu menahan serangan-serangan Kristen dan akhirnya mengaku kalah dan selanjutnya menyerahkan kepada Ferdenand dan Isabela, dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 setelah berkuasa selama tujuh abad lebih.

III. ISLAM DI SICILIA

A. Asal-usul dan Perkembangannya.

Di Tunis Dinasti Aghlabi berkuasa dari tahun 800 SM/96 M kerajaan ini dibentuk oleh Ibrahim Aghlab. Gubernur yang diangkat oleh Harun ar-Rasyid, dinasti inilah yang menyerang dan menguasai Sicilia dan dilator belakangi oleh adanya konflik intern penguasa Romawi yang pada waktu itu bani Aghlab diperintah oleh Amir Zayadatullah. Konflik intern ini ditandai dengan adanya perintah Kaisar Romawi Konstantinopel pada tahun 211 H, untuk menangkap seorang perwira yang bernama Fimi.

Pada bulan Rabiul Awal 212 H/827 M Sicilia berada dalam kekuasaan Bani Aghlab. Dinasti Aghlabiyah berkuasa di Sicilia dan kekuasaanya berlangsung terus hingga masa Fatimiyah. Daulah Fatimiyah mulai menguasai Sicilia sejak masa Ubaidillah al-Mahdi mengalahkan Aghlabiyah.

Daulah Fatimiyah juga sangat tertarik untuk menguasai Sicilia, karena alas an politik dan ekonomi. Mereka ingin mendirikan Negara Besar Laut Tengah dan merencanakan untuk membuat Sicilia sebagai pangkalan angkatan bersenjata agar segi ekonomi mereka berpendapat bahwa Sicilia adalah daerah produktif.

B. Kemajuan Islam di Sicilia

Sejak Sicilia dikendalikan oleh Islam maka wilayah tersebut berkembang pesat. Sicilia merupakan pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sehingga Islamisasi sains dan kultur islam mewarnai Sicilia dan sekitanya. Banyak mesjid dan pergutruan tinggi didirikan seperti disebutkan bahwa Universitas yang didirikan dikota tersebut kebesarannya mampu menandingi Universitas Cordova di Baghdad.

Perekonomian di Sicilia juga tergolong maju, hal ini dilihat dari adanya factor ketertarikan Daulah Fatimiyah untuk menguasai Sicilia. Daerah Sicilia adalah daerah produktif penghasil buah-buahan, emas, perak, timah, air raksa dan hasil tambang lainnya.

C. Kemunduran Islam di Sicilia

Kekacauan dari pihak Islam maupun dari luar Islam adalah salah satu factor yang berpengaruh terhadap kemunduran ini. Terbukti dalam usaha penguasa Kristen untuk mengembalikan Sicilia kepangkuannya. Penguasa Romawi tiada hentinya berusaha untuk merebut kembali Sicilia dari gengggaman umat Islam.

Kehancuran dan kemunduran Islam di kedua wilyah tersebut dikarenakan oleh factor internal dan eksternal. Factor internal yakni terjadinya perebutan kekuasaan diantara penguasa yang pada akhirnya ada yang meminta bantuan kepada penguasa Kristen untuk mengembalikan bumi ERopa yang dikuasai oleh orang Isalm kepangkuannya.


Bagian 5
PERANG SALIB
(LATAR BELAKANG DAN AKIBATNYA)

A. Pendahuluan

Dalam waktu kurang lebih seratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para penggantinya (Khalifah-khalifah) mendirikan suatu kerajaan yang lebih besar dari pada Roma. Guncangan terhadap tata internasional dan terutama Kristen tak terelakkan adalah sesuatu yang sulit diterima oleh akal bahwa suku-suku di Arab mampu bersatu dan mendukung kerajaan Bizantium (Roma Timur) yang tak terkalahkan selama abad VII dan VIII. Menjelang akhir abad itu tentara muslim terus melancarkan perluasan wilayahnya.

Banyak alasan mengapa ekspansi Arab itu cepat dan berhasil, karena terkurasnya kekuatan kekaisaran Bizantium dan Persia, setelah peperangan bertahun-tahun, ketidak puasan rakyat kepada penguasa, keterampilan para prajurit Badwi dan daya tarik rampasan perang. Namun, ketika fakta yang terutama adalah berdirinya Negara dan perang Islam dalam mempersatukan berbagai suku dan memberikan pengertian akan arti tujuan yang lebih besar.

B. Sebab-sebab Terjadinya Peperangan

Sebab-sebab terjadinya Perang Salib, menurut Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil adalah :
  1. Perasaan agama yang kuat; orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa setinggi langit.
  2. Perlakuan kasar orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen; Negara Islam selain dinasti Saljuk memperlakukan orang-orang Kristen sesuai dengan semangat toleransi Islam. Mereka izinkan orang-orang Kristen menunaikan ibadah di gereja-gereja suci di Baitul Maqdis. Dilain pihak, orang-orang Saljuk bersikap keras terhadap mereka karena orang-orang Saljuk belum lama memeluk agama Islam.
  3. Ambisi pribumi sri Paus; Sri Paus berambisi menggabungkan gereja Timur kedalam kekuasaanya. Merasa posisinya agak kuat, maka obsesinya meningkat, yaitu menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu Negara religious yang dipimpin langsung Sri Paus dan mengusir kaum Muslimin dari Baitul Maqdis. Selain itu kegemaran tentara-tentara dan tokoh-tokoh Kristen berpetualangan ke Negara-negara lain dan ambisi para penguasa mendirikan pemerintahan Barat di dunia Timur.
Bila ditelaah mendalam sebab-sebab terjadinya Perang Salib itu dapat dikategorikan dalam sebab-sebab langsung (Immediate Cause) dan sebab-sebab terpendam (Underline Cause). Sebab-sebab langsung dari Perang Salib antara lain :
  1. Ancaman Bani Saljuk terhadap Imperium Bizantium (Romawi Timur) dengan menaklukan daerah-daerahnya.
  2. Penguasa Bani Saljuk melarang/menghalangi orang-orang/Kristen yang akan berziarah ke Baitul Maqdis di Palestina.
  3. Adanya seruan dari Sri Paus untuk melaksanakan perang suci merebut kembali kuburan suci dari kaum muslimin
Sebab-sebab terpendam dari Perang Salib adalah :
  1. Penaklukan daerah-daerah Kristen oleh umat Islam. Tentunya penaklukan itu membangkitkan emosi pemimpin-pemimpin orang Kristen untuk melakukan pembalasan yaitu menaklukan daerah-daerah yang dikuasai umat Islam.
  2. Hubungan yang kuarng baik antara kaisar Bizantium di Konstantinopel dengan Paus Urbanus II di Roma. Hubungan ini dapat diperbaiki dengan ikut sertanya Paus dalam Perang Salib itu. Setelah permintaan dari Kaisar Bizantium, Kaisar berusaha untuk mempertahankan kota Konstantinopel dari serangan Bani Saljuk, setelah beberapa daerahnya jatuh ketangan umat Islam. Karena itu kaisar memohon bantuan Paus untuk mengorganisir suatu peperangan melawan umat Islam. Karena Paus bermaksud memperbaiki hubungan dengan kaisar, maka permintaannya disetujui.
C. Akibat Perang Salib

Ada beberapa unsure dalam Perang Salib yang perlu dianalisa :
  1. Dalam perang salib tentunya terdapat suatu ide atau cita-cita yang akan dibela. Ide atau cita-cita itu adalah mempertahankan agama Kristen dari umat Islam.
  2. Agar ide-ide itu dapat dipahami oleh setiap orang yang ikut dalam perang salib itu, maka diperlukan adanya tokoh-tokoh yang menginformasikan ide tersebut. Dalam hal ini adalah Paus Urbanus II dan pemimpin agama yang lain dan bangsawan-bangsawan Eropa.
  3. Untuk melibatkan kaum Kristen dalam perang salib ini diperlukan adanya mobilitas (Mobilization to action). Ide atau cita-cita yang diperjuangkan itu merupakan salah satu cara untuk mobilitas tersebut. Selain itu digunakan lambing-lambang suci seperti tanda salib dan pembabtisan,
  4. Faktor-faktor pencetus perang salib tersebit dapat berfungsi dengan baik, karena tidak ada control dari pihak lawan, pemerintah Islam yaitu Bani saljuk dan Daulat Abbasyiah. Control lemah oleh karena factor komunikasi yang sulit apalagi konsentrasi pasukan diadakan di daerah yang tidak dikuasai.
Perang Salib berhenti karena kekalahan-kekalahan yang di derita kaum Salib di Timur. Sekalipun mereka kekalahan, mereka mendat keuntungan yang berharga yang mengantarkan timbulnya Reneissans Eropa yang kemudian membawa kemajuan peradaban Barat.

Umat Islam sekalipun berhasil menghancurkan tentara Salib dan menghalau dari dunia Timur, sebenarnya tidak mendapatkan menafaat dalam perkembangan budaya dan peradaban, melainkan kehancuran. Dalam dunia Islam yang sempat diduduki kaum Salib adalah kerajaan-kerajaan yang mempunyai peradaban yang sudah maju dan berbudaya tinggi maka sudah barang tentu kebudayaan itu yang pada gilirannya dapat memanfaatkan untuk kejayaan Negara, bangsa dan agama.


Bagian 6
HEGEMONI FILSAFAT YUNANI
(SUATU TINJAUAN SEJARAH)

I. PENDAHULUAN

Sejarah pemikiran filosofi masuk ke dalam dunia Islam melalui falsafat Yunani yang dipimpin ahli-ahli fikir Islam di Surya, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Kebudayaan dan falsafat Yunani dating ke daerah-daerah itu dengan ekspansi Alexander yang Agung ke Timur di abad ke empat sebelum Kristus. Politik Alexander untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan kebudayaan Persia meninggalkan bekas besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya dan kemudian timbullah pusat-pusat kebudayaan Yunani Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antioch di Surya, Jundisyapur di Mesopotamia dan Bactra di Persia.

II. PERKEMBANGAN FILSAFAT

Sejarah menunjukkan bahwa kini filsafat tidak lagi membawa pemikiran pada subjek besar sebagaimana masa lalu, kemajuan ilmu pengetahuan dan terutama ilmu pengetahuan yang telah menggiyahkan dasar-dasar pemikiran filsafat. Banyak hal yang semula merupakan salah satu bagian dari ilmu filsafat yang membahas tentang ilmu asal (Epistimologi), kini telah menjadi topic pokok perhatian dari pada ilmu-ilmu filosofi dan psikologi.

Dengan jasa ilmu filsafat yang fungsional, banyak tokoh-tokoh pemikir yang termasyhur baik Socrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain. Begitu juga tokh pemikir di kalangan umat Islam, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Rusyd, Ibn Sina dan sebagainya. Semua tokoh pemikir caliber tersebut terilhami ilmu filsafat yang mengubah budaya dan peradaban manusia yang semakin mensemesta di sentero alam jagad raya.

III. ISLAM DAN PEMIKIRAN HELLENISME

Ketika Islam lahir, bangsa Arab dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang berkebudayaan tinggi dan megah, seperti Persia, Romawi, Yunani dan India. Sebagai masyarakat yang baru lahir, jika Islam hendak memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi, maka harus mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa lain yang jauh lebih maju. Usaha itu telah dilakukan oleh umat islam di zaman klasik, khususnya di zaman sejak masa Dinasti Umayyah.

IV. FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut secara lebih rinci dikemukakan sebagai beikut :
  1. Filsafat, dalam arti analisa filsfat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikan.
  2. Filsafat juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat pendidikan tentu mempunyai relefansi dengan kehidupan nyata.
  3. Filsafat termasuk juga filsafat pendidikna juga mempunyai fungsi memberi pentunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik.
Filsafat pendidikan suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatiannya dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi normative ilmiah, yakni :
  1. Kegiatan merumuskan dasar-dasar dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakikat manusia serta konsepsi hakikat dan segi pendidikan serta isi moral pendidikan.
  2. Kegiatan merumuskan system atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan person pendidikan dalam membangun masyarakat dan Negara.
V. HUBUNGAN ILMUAN MUSLIM DENGAN FILSAFAT YUNANI

Ada tiga factor yang meyebabkan lahirnya filsafat Yunani, adalah :
  1. Bangsa Yunani kaya akan mitos dan hal itu adalah awal untuk mengetahui dan mengerti sesuatu.
  2. Beberapa karya sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong lahirnya filsafat Yunani yang berisi pedoman hidup dan nilai-nilai edukatif.
  3. Pengaruh ilmu pengetahuan yang berasal dari Babilonia di lembah sungai Nil. Ilmu-ilmu tersebut hanya dipelajari aspek praktisnya saja tetapi juga aspek teoritis kreatifitasnys.
Zaman Yunani terbagi dua periode, yaitu :
  1. Yunani kuno, dengan ahli pikir alam (kosmologi) antara lain Thales, Anaximenes, Phytagoras, Demokritos dan lain-lain.
  2. Yunani klasik dengan ahli fikir seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles.
Filsafat Yunani ditentukan oleh umat Islam dalam samaran bahasa Syiria yang merupakan campuran antara pikiran Plato dan Aristoteles. Sebagaimana yang telah ditafsirkan dan diolah oleh para filosof selama berabad-abad sepanjang masa Hellenisme. Pemikiran Yunani yang masuk ke dunia Islam tidak datang dari manuskrip-manuskrip yang asli, vitalitas ilmuan dan filosof Yunani telah berakhir dengan mundurnya museum Alexanderia. Jembatan yang menghubungkan antara pengetahuan Hellenisme dengan budaya Islam adalah penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Syiria yang dimengerti oleh ilmuan Persia, Yunani, Yahudi dan Kristen yang sedang mencari kebebasan. Beragam intelektual di Persia selama dua abad sampai kerajaan susahnya ditaklukan oleh bangsa arab.

Filsafat Yunani adalah kegiatan berfikir yang dilakukan oleh para filosof Yunani untuk mencari hakekat kebenaran yang penuh kebijakan dalam menata tata dunia baru yang lebih bijaksana, elegan dan dinamis dalam mengapresisikan pemikiran-pemikiran yang konstruktif. Dengan adanya pendidikan, manusia semakin berbudaya dan berperadaban dalam mengembangkan kepribadiannya yang lebih kreatif, inovatif dan produktif.

Ketertarikan umat islam terhadap kebudayaan Yunani dilanjutkan dengan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Penerjemahan ini pertama kali dilaksanakan di masa Dinasti Umayyah. Ketertarikan umat islam akan warisan Yunani semakin besar setlah terjadi kontak yang makin dekat dengan warisan Yunani. Semenjak al-Mansur naik tahta, umat islam semakin hari semakin terbawa oleh pengaruh peradaban Yunani.

Filsafat Yunani mulai berpengaruh di kalangan ilmuan muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan mencapai puncaknya pada masa Bani Abbasyiah ketika karya-karya filosof Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria oleh Huyamin dan anaknya menerjemahkan dalam bahasa Syiria ke bahasa Arab.

Al-Ma’mun adlah khlaifah yang banyak jasanya dalam menerjemahkan ini dengan tidak segan-segan membayar biaya penerjemah berupa emas seberat yang diterjemahkan. Karya-karya Yunani yang dibaca oleh ilmuan Muslim ini memberikan motivasi untuk menggunakan logika dan membahas ajaran Islam dan mengembangkan gaung nilai-nilai ilmu di seantero alam ini.



Bagian 7
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
(ADAPTASI ATAU REFORMASI)

A. Latar Belakang

Organisasi Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 november 1912 di Jogjakarta yang dilatar belakangi oleh berbagai factor pada waktu itu. Pada dasarnya Muhammadiyah mengarahkan langkahnya pada dasar pemikiran untuk kembali pada kemurnian tauhid yang diajarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari pola gerak langkah itulah kenudian gerakan Muhammadiyah disebut gerakan reformasi yang dalam Muhammadiyah sendiri dikenal dengan istilah Tajdid.

B. Gerakan Muhammadiyah (Adaptasi atau Reformasi)

Sebagai gerakan pembaharuan, maka oleh HAR. Gibb dalam bukunya Modern trends in Islam dikatakan bahwa bidang garap yang utama dari golongan pembaharuan ada 4 pokok, yaitu :
  1. Mensucikan Islam dari pengaruh yang tidak benar (TBK)
  2. Pembaharuan Pendidikan yang lebih tinggi derajat dan martabatnya bagi kaum muslimin.
  3. Pembaharuan rumusan ajaran Islam menurut alam pikiran modern.
  4. Pembelaan Islam terhadap pengaruh Barat dan ajaran Kristen.
Ada beberapa tantangan perlu menjadi perhatian dari organisasi ini, antara lain :
  1. Penyebaran wawasan Idiologi; berbagai masalah yang muncul dibidang ekonomi, social budaya pada akhir abad ke 20 ini menuntut adanya kerangka teologis yang responsive. Dari masalah ketidak adilan sampai pelecehan morak memerlukan paradigm teologis yang pas.
  2. Tantangan dalam pembangunan SDM, umat islam yang mayoritas sering dianggap sebagai minoritas kualitatif, sebagai belum tangguh dan andal. Dari segi kualitatif memang mayoritas tetapi kualitatif menjadi minoritas.
  3. Tantangan agar Muhammadiyah menjadi alat pembaharuan pemikiran maupun aksi social keagamaan yang produktif dan harus bias membenahi diri.
Oleh Mukti Ali disebutkan bahwa amal usaha Muhammadiyah itu memiliki 4 fungsi, yaitu :
  1. Membersihkan Islam Indonesia dari pengaruh-pengaruh kebiasaan-kebiasaan yang bukan islam.
  2. Reformulasi doktrin-doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern.
  3. Reformasi jaran-ajaran dan pendidikan Islam.
  4. Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan-serangan dari luar.
Selanjutnya Amin Rais mengemukakan lima doktrin Muhammdiyah yang hingga sekarang tetap hidup di kalangan Muhammdiyah sebagai obyek dalam melaksanakan gerakan pembaharuan, yaitu :
  1. Tauhid
  2. Pencerahan Umat
  3. Menggembirakan Amal Salih
  4. Kerjasama untuk Kebijakan
  5. Tidak Berpolitik Taktis
Dalam perkembangan zaman yang menuntut perubahan di segala aspek maka Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan perlu meninjau dan mengikuti perkembangan transformasi zaman. Oleh karena anggapan dasar tentang lahirnya Muhammadiyah pada zaman lampau tentu sangat jauh berbeda dengan anggapan dasar pada zaman sekarang. Misalnya saja pada zaman penjajahan perjuangan Muhammadiyah ditujukan kepada perlawanan terhadap pengaruh colonial, juga di zaman Hindia Belanda. Akan tetapi sekarang penjajah sudah tidak ada lagi maka missi dapat pula berubah namaya tetapi tetap sama yakni menyebarkan agama Islam dan membina para ummat dengan tidak melupakan kepentingan bangsa dan Negara. Inilah merupakan prinsip transformasi social dalam Muhammadiyah.


Bagian 8
PEMBERONTAKAN
PETANI BANTEN TAHUN 1888
(KEBANGKITAN KEMBALI AGAMA)

I. PENDAHULUAN

Masyarakat Banten dalam abad XIX berada dalam tahap peralihan, sehingga keterangan lama menggejolak kembali. Fakta-fakta menyakitkan, yakni hilangnya privilege dan penghinaan kolektif yang tak terelakkan lagi di zaman kolonial itu, telah menimbulkan rasa dendam dan frustasi yang mendalam dikalangan golongan-golongan dan aliran-aliran tarekat. Kondisi seperti diatas dengan sendirinya merupakan “lahan” yang subur bagi pemberontakan (chaos).

Di dalam aliran masyarakat kolonial, terdapat ketidak cocokan yang teramat tajam antara aspek-aspek tertentu dari praktek-praktek keagamaan tradisional dan lembaga-lembaga kolonial, menimbulkan rasa getir dikalangan pribumi (bumi putera). Mereka dipengaruhi oleh paham-paham mengenai perang sambil melawan kekuasaan orang-orang kafir. Sebagai konsekuensinya, maka cara mereka menilai situasi kolonial itu melahirkan satu tradisi perlwanan psiko-kultural terhadap setiap golongan yang mewakili kekuasaan kolonial.

Elit agama telah mendapat posisi untuk memimpin gerakan pemberontakan Banten pada 1888 dan otoritas mereka yang kharismatik dengan sendirinya merupakan factor penting dalam usaha membina pertumbuhan gerakan itu. Kepemimpinan kharismatik yang urgen di dalam pemberontakan itu merupakan konsekuensi logis dari berbagai kondisi yang kompleks. Di samping tingkat keresahan social yang tinggi dan tak ada cara-cara yang sah untuk menyatakan protes pun perasaan tidak senang di dalam masyarakat Banten.

II. PEMBAHASAN

A. Kebangkitan Agama

Kebangkitan agama pada masyarakat Banten dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya :
  1. Jumlah haji yang terus meningkat, terutama setelah pembukaan terusan suez pada 1870.
  2. Jumlah pesantren meningkat.
  3. Peningkatan jumlah mesjid yang baru. Pada sahlat jum’at, mesjid dikunjungi oleh jemaah yang lebih banyak dari sebelumnya.
  4. Usaha penyebaran surat “Wasitul Nabi” yang berisi peringatan terakhir yang diberikan oleh Nabi Muhammad
  5. Berkembangnya tarekat.
B. Gerakan Pemberontakan

Pada tanggal 9 Juli 1888, mulailah Haji Wasid bersama kelompoknya mengadakan pemberontakan bersenjata. Di Cilegon mereka berhasil membunuh 17 orang. Sesudah pembunuhan ini mereka melakukan perjalanan menuju Serang dengan maksud yang sama yakni memerangi orang “kafir”. Akan tetapi, dalam perjalanan mereka bertemu rombongan serdadu bersenjata 28 bedil yang sedang dalam perjalanan dari Serang menuju Cilegon untuk membantu Belanda. Di desa Toyomerto – antara Cilegon dan Serang – terjadilah pertempuran antara rombongan Haji Wasid dengan serdadu Belanda, dimana sembilan orang pengikut tewas dalam pemberontakan, sehingga menurunkan semangat para pemberontak. Kelompok yang maki kecil ini, masih melanjutkan perjalanan hingga ke Banten Selatan, dimana sisanya terbunuh sebanyak 11 orang lagi akhirnya 94 orang diasingkan karena diduga terlibat dalam pemberontakan ini.

C. Ideologi Jihad : Perlawanan Mutlak

Pada dasarnya, motifasi pemberontakan petanai banten adalah perpaduan antara motif ekonomi (kerja paksa, pajak), politik, sosial (perilaku pegawai belanda dan pribumi yang agak “kasar”, tidak menghormati sikap bebas orang Banten) dan agama, dengan indikasi sebagai berikut :
  1. Patih dan jaksa di Cilegon sependapat dengan Belanda untuk tidak akan mengijinkan lagi orang mukmin sholat di dalam mesjid dan mereka berusaha memusnahkan agama islam.
  2. Patih terlalu tinggi menaikkan beban pajak, meskipun rakyat telah mengajukan permohonan kepada Bupati Serang, tetapi pegawai ini tetap menyerahkan persoalan pajak tersebut kepada patih, ini berakibat jumlah pajak tetap tidak dikurangi.
  3. Pegawai pribumi yang bekerjasama dengan kolonial banyak mempergunakan mata-mata dan mereka mencari pelanggaran hukum yang sangat sederhana tetapi kemudian dihukum berat.
  4. Rakyat biasa sangat marah karena tidak diperlakukan dengan baik, terutama oleh patih dan jaksa.
Dengan adanya berbekal ideologi jihad fi sabilillah, akhirnya pemberontakan kaum petani itu dapat dipatahkan oleh tentara kolonial Belanda atas bantuan para pegawai pribumi yang memihak kepada kolonial. Walaupun sangat singkat (9-30 Juli 1888), tetapi pemberontakan ini melahirkan semangat baru ke beberapa wilayah lain.


Bagian 9
BATARA GOWA

A. PENDAHULUAN

Mesianisme merupakan suatu kekuatan sosial yang mendorong ke arah tindakan-tindakan untuk mengubah situasi. Situasi itu hendak diubah karena dipandang sebagai situasi krisis, penuh dengan penderitaan, kesengsaraan dan kezaliman. Kesadaran akal hal ini menimbulkan adanya harapan akan perubahan yang mendatangkan kemakmuran. Harapan itu sering kali membangkitkan sentimen revolusioner dalam bentuk gerakan sosial sebagai proses sosial. Sedangkan yang diharapkan dapat memberi pertolongan ialah seorang mesias.

Di tanah makassar sendiri dalam situasi seperti itu tampilah seorang yang mengaku Batar Gowa selaku pelopor mesianisme yang berhasil mendapatkan pendukung dan pengikut yang banyak dengan janji-janjinya yang memikat hati dalam bentuk gerakan sosial yang merupakan suatu ledakan keresahan sosial yang ada dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya perubahan sosial sebagai konsekuensi pengaruh barat yang semakin memperkuat posisinya di Makassar.

B. Sekilas Pandang Tentang Mesianisme.

Mesianisme adalah suatu paham menantikan datangnya seorang “messiah” yang bakal menyelamatkan umat manusia dan mewujudkan keadilan bagi penduduk bumi. Perkataan mesianisme berasal dari bahasa Ibrani “messiah” merupakan padanan perkataan Arab al-Masih.

Mesianisme dalam dunia Islam dikenal dengan Al-Mahdi dipulau Jawa biasa dikenal dengan Ratu Adil. Adapun di Sulawesi Selatan khususnya Makassar dikenal dengan Batara Gowa.

C. Asal Usul Munculnya Gerakan Batara Gowa

Batara Gowa adalah nama bagi seorang raja yang diasingkan oleh Belanda ke Sailan lalu seorang Tokoh Mesianis mengaku bahwa dialah Batara Gowa tersebut. Adapun raja yang dimaksud adalah “Amas Madina” yang telah dipilih menjadi raja dalam usia enam tahun pada tanggal 21 Desember 1753 untuk menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun itu. Oleh karena baginda masih sangat muda maka digantikanlah oleh neneknya dalam menjalankan kekuasaanya dan pemerintahan Gowa.Gerakan Batara Gowa adalah gerakan sosial yang muncul sebagai ledakan keresahan sosial yang ada dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya perubahan sosial karena adanya pengaruh Barat yang semakin memperkuat posisinya di Makassar.

Gerakan Batara Gowa merupakan suatu manifestasi pergolakan sosial yang muncul sebagai luapan dinamika interen dari masyarakat terhadap perkembangan politik selama periode pemerintahan Belanda.

Bagian 10
ISLAM DAN PARADIGMA ORDE BARU 


A. PENDAHULUAN

Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat bangsa Indonesia secara signifikan telah meneteskan nilail yang kemudian membentuk kareakter dan corak berfikir atas bagaimana fenomena sosial, politik, ekonomi, pendidikan, hukum dan sebagainya. Secara umum stratifikasi sosial masyarakat Islam Indonesia berdasarkan kualitas keislamannya dapat dikelompokkan dalam empat kelompok, yaitu :
  1. Kelompok muslim yang meyakini ajaran Islam secara kaffah (Islam sebagai ajaran yang menyangkut nilai ritual, etika dan sosial).
  2. Kelompok muslim yang mengenal Islam hanya isi ritualnya saja.
  3. Kelompok muslim yang mengenal hanya sebagai warisan orang tua dan merupakan simbol spiritual semata.
  4. Kelompok muslim feomalistik; menjadikan Islam sebagai status sosial.
Konsekuensi dari stratifikasi sosial ini adalah beragamnya sikap politik umat Islam menghadapi kebijakan negara. Komunitas politik Islam dan negara lebih banyak diperankan oleh kelompok pertama.

Sejarah politik Islam di Indonesia pada masa orde baru dapat dibagi pada dua corak utama dengan fasenya masing-masing, yakni :

1. Fase 1965 – 1978, untuk mencapai tujuannya, para aktivis Islam politik terutama bergantung pada :
  • Politik non integrative (partisipan)
  • Parlemen sebagai satu-satunya arena perjuangan.
Implikasi dari corak politik ini adalah : penegasan tujuan-tujuan ekslusif yang mencakup :
  • Penegasan Islam sebagai dasar dan ideologi negara.
  • Mendesak dilegalisasikannya piagam jakarta.
2. Fase 1973 – akhir tahun 90-an; fase ini Islam lebih bersifat kultur namun tidak menghilangkan watak politisnya. Pergeseran hanya mencakup format dan rumusan tentang :
  1. Landasan teologis dan filosofis politik Islam
  2. Tujuan-tujuan politik Islam
  3. Pendekatan politik Islam, dari formalisme-legalisme kepada substasialisme-inklusinisme.
Konsekuensinya adalah gencarnya ajnuran pembaharuan teologis melalui tema desakralisasi, reaktualisasi dan pribumisasi.

B. Depolisitas Idealisme dan Politik Islam

Secara garis besar, bahwa pasca pemilu 1971, tingkat “penjinakan” (depolitisasi) peran sospol umat islam semakin gencar bukan saja pada aspek kooptasi (asas tunggal) tahun 1986, sehingga hampir secara keseluruhan umat Islam terpinggirkan dalam sistem politik dan ekonomi bangsa indonesia ini. Krisis komunikasi politik (disharmoni) antara Islam dan Negara ini kemudian mendorong reorientasi landasan teologis-filosofis Islam, tujuan politik islam dan corak politik islam yang cenderung logalisme-formalisme pada substansialisme dan inklusivisme, dengan menampilkan corak islam kultural yang dipelopori oleh intelektual-intelektual muda islam. Dan peralihan ini kemudian mengawali fase baru hubungan islam dan negara.

C. Intelektualisme Islam Baru dan Akomodasi Negara

Salah satu unsur penting dari intelektualitas adalah medan pergumulannya, yakni medan simbolik. Hal ini menyangkut interpretasi, konstruksi atau dekonstruksi atas realitas atau teks, termasuk di dalamnya realitas atau teks keagamaan.

Dalam diskursus pembangunan indonesia orde baru, Islam terlah dikonstruksi ke dalam beberapa bentuk keislaman yang dilatari oleh keragaman pranata dan realitas sosial penganutnya. Konstruksi keislaman Indonesia orde baru secara umum meliputi : neo modernis, konstruksi neo revivalis dan konstruksi neo formasi.

Sikap akomodatif negara terhadap islam mencakup diterapkannya kebijakn-kebijakan yang sejalan dengan kepentingan sosial ekonomi dan politik umat Islam. Jika dikategorikan secara luas bukti-bukti tersebut digolongkan kedalam empat jenis berbeda :
  1. Akomodasi struktural
  2. Akomodasi legislatif
  3. Akomodasi infra struktur
  4. Akomodasi kultural
Akomodasi negara terhadap Islam pada sisi yang lain melahirkan suatu keadaan dimana Islam politik secara bertahap mempunyai daya fress yang semakin kuat sehingga terjadi proses saling melengkapi secara harmonis antara Islam dan negara. Kondisi kemudian mengkristalkan dan kesadaran transformatif yang mendorong lahirnya reformasi kemudian.


Bagian 11
ISLAM SEBAGAI AGAMA NEGARA
DI MALAYSIA

Secara singkat dari Islam sebagai agama negara di Malaysia dapat dilihat dari beberapa uaraian sebagai berikut :
  1. Islam di Malaysia pra kolonial adalah Islam yang dikembangkan oleh para kaum sufi yang mengandung unsur-unsur metafisika ilmu tasawuf, yang kemudian berkembang pula ajaran ortodoks (Wahabiah dan gerakan Modernis).
  2. Kebangkitan Islam pasca kolonial mengacu pada kegiatan politik atas nama Islam, untuk membangkitkan kembali semangat kaum muslimin, agar memperoleh kehormatan dan prestasi kejayaan Islam.
  3. Negara Malaysia dengan berlandaskan konstitusi Islam, memberikan ciri-ciri eksternal sebagai negara melayu, dengan berlatar belakang Melayu sebagai penggerak kebangkitan Islam di Asia Tenggara.
Malaysia dengan konstitusi Islam, memberikan kelonggaran terhadap perkembangan agama yang ada diwilayah tanpa disertai tindakan diskriminasi terhadap golongan non-muslim, sebagaimana yang dicantumkan dalam konstitusinya.


Bagian 12
LIBERALISME ISLAM DI INDONESIA
(STUDI KASUS PEMIKIRAN JIL)

Jaringan Islam Liberal dengan pemikiran-pemikirannya, yang mencoba menyatukan komunitas Islam dalam bingkai modernitas, maka umat islam seharusnya semakin sadar dan maju pesat perkembangan pemikiran keagamaanya dari berbagai lini kehidupan.

Salah satu pemikiran JIL, yang perlu diapresiasi adalah konsep tentang pluralisme, modernisasi, demokrasi dan sejenisnya, yang sampai saat ini bagi sebagian umat Islam masih dianggap sebagai bukan jaran orisinil Islam. Bagi JIL konsep tersebut memiliki pijakan teologis yang kuat dalam al-Qur’an bahkan sunnah rasul dan generasi-generasi awal Islam. Bila tidak, maka fenomena yang akan berkembang merebaknya kekerasan yang dalam kasus-kasus tertentu sarat dengan muatan agama atau minimal dilakukan oleh umat beragama, terutama umat Islam.

Maraknya tindakan kekerasan ini, selain muncul akibat ketidak mampuan manusia dalam menyikapi modernitas yang sangat kompleks, juga berpeluang pada pola keberagamaan mereka yang mengedepankan ekslusivisme dan klaim kebenaran sepihak, serta tidak bisa membedakan Islam normatif dengan Islam sejarah. Dalam suasana ini, umat Islam melakukan mistifikasi Jihad dan simbol agama yang lain, mereduksi sekedar memperkental identitas diri dan menjadikannya sebagai media untuk menyerang kelompok dan umat Islam yang berbeda.

Dengan konteks itu JIL, mencoba membangun dan mengembangkan suasana beragama yang transformatif dan inklusif, menampakan signifikansinya untuk selalu “dilirik” oleh komunitas umat. Melalui pemahaman keagamaan yang holistik dan pola keagamaan yang inklusif, umat islam diharapkan dapat menyelesaikan krisis kemanusiaan, serta menjadikan modernitas sebagai proses yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas manusia, serta mengembalikan harkat dan martabatnya sebagai hamba Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar